17 September 2013, 14:10
Aceh Dalam Budaya Global

Globalisasi laksana kuda liar yang sedang berlari kencang menerjang zaman kita. Tak ada yang bisa menolak arus ini, selain kita dapat mengendalikannya. Makin hari pengaruh global makin terasa dan orang-orang muda di berbagai belahan dunia menjadi lahan suburnya. Globalisasi merupakan proses penyatuan masyarakat dari sisi gaya hidup, orientasi dan budaya.

Kemajuan teknologi informasi dewasa ini telah menjadi penggerak utama penyatuan budaya global. Internet, televisi, parabola, serta jejering sosial telah terkoneksi mempertemukan secara real time. Segala peristiwa yang terjadi belahan timur, barat, selatan dan utara dapat tersaji diujung jari kita, dengan sekali klik!

Pengaruh globalisasi jelas terasa pada pergeseran budaya, adat istiadat dan kelaziman kita. Aceh sebagai salah satu wilayah transisi dari konflik dan bencana, memiliki tantangan tersendiri. Selain berkutat dengan problem internal, ditambah lagi harus terjun dalam pusaran globalisasi. Jika dulu Aceh terkenal dengan tradisi kebersamaan dalam nuansa Islam kini sedikit demi sedikit bergeser menjadi masyarakat bebas dan individual.

Sasaran empuk dipersalahkan adalah orang muda, karena mereka paling awal mengenal kecanggihan komunikasi dan saling terhubung. Lalu, sebagian oknum masyarakat memberlakukan hukum-hukum sosial misalnya; tangkap, sweeping, gerebek, ancam dan usir. Pemerintah juga membuat aturan, hukum-hukum formal dengan maksud penegakan Syariat yang bertendensi ideal. Tentulah hukum-hukum tersebut bermuara pada keinginan menjaga adat dan kebudayaan Aceh.

Sebagai ilustrasi, maraknya games online, judi online, pornogafi, model pakaiyan serta gaya hidup yang kini ditiru oleh orang-orang muda di Aceh, tidak cukup dijawab dengan melemparkan isu atau hukum “larangan” saja. Perilaku tersebut akhirnya justru bisa menjadi benih-benih perpecahan didalam masyarakat. Tentu kita tidak ingin mengukur kemajuan Aceh dengan makin banyaknya orang melanggar aturan, contohnya Kota Langsa mengamankan 2.145 pelanggar Syariat, rata-rata pelajar dan pemuda (Rakyat Aceh, 19/2/13).

Disisi lain, politik dengan isu-isu berlabel agama dan kebudayaan menjadi sangat populer. Seolah-olah siapa yang paling ekstrim berteriak tentang “obat” globalisasi, merekalah yang merasa paling punya otoritas ditengah masyarakat. Mereka yang ekstrim begitu yakinnya dapat menyelesaikan segala persolan cukup dengan satu sudut pandang.

Globalisasi adalah keniscayaan zaman, tak mungkin bisa ditolak. Dan, tentu saja tidak semua hal yang terlahir dari kemajuan global berdampak negatif bagi kita. Aceh dengan posisi

dipersimpangan selat Malaka dan otoritas politik kuat pasca MOU Helsinki punya peluang yang besar menata masa depan.

Menghadapi tantangan globalisasi dengan melahirkan kembali identitas Aceh merupakan langkah strategis untuk memulai persaingan global. Kita tahu bahwa sejak lama entitas Aceh mewarnai berbagai benua. Semangat orang-orang Aceh masa lalu terkenal justru karena pengaruh hubungannya dengan pihak luar. Mengapa itu bisa terjadi? Karena dahulu Aceh memiliki identitas yang kuat!

Mencari kambing hitam, tak menyelesaikan masalah. Orang-orang muda Aceh perlu diberi ruang yang cukup untuk menemukan jati-dirinya. Pemerintah dan stakeholder di Aceh berkewajiban menciptakan ruang-ruang kepada orang muda untuk berekspresi, sehigga dari sana akan lahir kreatifitas baru yang positif dan diharapkan bisa bersaing di kancah global. Bukan malah berfikir sebaliknya dengan menutup diri. | yulizuardirais

join the team